Thursday, September 1, 2011




PROFIL POLITEKNIK NEGERI SEMARANG (POLINES)

Awal mula munculnya politeknik dapat dilihat dari sejarahnya. Politeknik pertama kali dimunculkan oleh ITB bekerjasama dengan Departemen Pekerjaan Umum tahun 1972 dengan nama Lembaga Politeknik Pekerjaan Umum-ITB (LPPU-ITB), untuk mengatasi kebutuhan tenaga kerja teknis berketerampilan tinggi yang mampu menjembatani kesenjangan antara lulusan Universitas/Institut dengan Sekolah Menengah Teknologi.

Lembaga Pendidikan ini didirikan atas dasar langkanya persediaan teknisi ahli madya yang diperlukan oleh industri dan keberhasilan politeknik mekanik Swiss dan ITB, yang didirikan pada tahun 1976. Untuk itu tahun 1982 telah dioperasikan 6 buah Politeknik di Universitas Sumatera Utara Medan, Universitas Sriwijaya Palembang, Universitas Indonesia Jakarta, Institut Teknologi Bandung, Universitas Diponegoro Semarang dan Universitas Brawijaya Malang dengan bantuan Bank Dunia sesuai dengan surat keputusan Direktorat Jendral pendidikan Tinggi No. 03/DJ/Kep/1979

Politeknik Universitas Diponegoro pada awal mulanya (1982) mempunyai tiga departemen bidang keteknikan yaitu Departemen Teknik Sipil, Departemen Teknik Mesin dan Departemen Teknik Elektro yang dipimpin warga asing. Karena kebutuhan industri menuntut adanya tenaga terampil di bidang bisnis, sehingga pada tahun 1985 berdiri Jurusan Tata Niaga di Politeknik yang dipimpin warga asing. Dan pada tahun 1989 terjadi pengembangan jurusan Teknik Elektro menjadi Teknik Listrik dan Teknik Elektronika/Telekomunikasi.

Pada tanggal 6 Agustus 1997 Politeknik Universitas Diponegoro dinyatakan mandiri dan lepas dari manajemen Universitas Diponegoro dengan SK Menteri Pendidikan dan kebudayaan RI No. 175/O/1997 dengan nama POLITEKNIK NEGERI SEMARANG. Kemudian tanggal 31 Juli 2002 terbit SK Menteri Pendidikan Nasional No. 134/O/2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Politeknik Negeri Semarang.

0 Sistem Komunikasi Bergerak Generasi Ketiga (3G)


Sistem Komunikasi Bergerak Generasi Ketiga (3G)
Sistem komunikasi nirkabel generasi ketiga dikembangkan dari sistem-sistem yang ada di generasi kedua, yang sudah matang teknologinya. Tujuan diciptakannya jaringan komunikasi generasi ketiga adalah menyediakan seperangkat standar tunggal yang dapat memenuhi aplikasi-aplikasi nirkabel yang luas variasinya dan menyediakan akses yang sifatnya universaldi seluruh dunia. Di dalam sistem komunikasi generasi ketiga ini, perbedaan antara telepon nirkabel dan telepon seluler akan hilang, dan komunikator personal yang bersifat universal atau perangkat genggam personal akan mampu melakukan akses ke berbagai layanan komunikasi yang mencakup suara, data dan gambar.
Ciri-ciri karakter yang dituju oleh 3G ini adalah:
  1. memiliki standar yang bersifat global atau mendunia
  2. memiliki kesesuaian atau kompatibilitas layanan dengan jaringan-jaringan   kabel
  3. memiliki kualitas tinggi baik suara, data dan gambarnya
  4. memiliki pita frekuensi yang berlaku umum di seluruh dunia
  5. memiliki bentuk komunikasi yang bersifat multimedia, baik layanannya maupun piranti penggunanya
  6. memiliki spektrum yang benar-benar efisien
  7. memiliki kemampuan yang mudah untuk berevolusi ke sistem nirkabel generasi berikutnya
  8. memiliki laju data paket 2Mbps untuk terminal atau perangkat yang diam di tempat, 384 kbps untuk kecepatan orang berjalan dan 144 kbps untuk kecepatan orang berkendaraan
Generasi ketiga menggunakan jaringan digital layanan terpadu berpita lebar untuk mengakses jaringan-jaringan informasi. Istilah-istilah yang muncul seperti Personal Communication Sistem (PCS) dan Personal Communication Network (PDN) digunakan untuk menyatakan secara tidak langsung munculnya sistem generasi ketiga bagi perangkat-perangkat genggamnya. Nama lain dari PCS ini termasuk Future Public Land Mobile Telecommunication Sistem (FPLMTS) untuk penggunaan di seluruh dunia, yang juga dikenal dengan nama International Mobile Telecommunication 2000 (IMT 2000), dan Universal Mobile Telecommunication Sistem (UMTS).
Perkembangan dari GSM ke WCDMA
Setelah generasi kedua sukses di pasaran, komunikasi bergerak kemudian masuk menuju generasi ketiga. Namun, sebelum masuk ke generasi yang memiliki kemampuan multimedia secara penuh ini, kunci awalnya adalah penggunaan GPRS.

Teknik transmisi data yang ada pada generasi kedua (GSM) saat ini terbatas pada komunikasi suara, hal ini dikarenakan kanal radio yang bersifat tunggal dan berkecepatan rendah, senantiasa harus diperuntukkan khusus bagi pengguna data selama durasi komunikasi (dedicated), misalnya untuk SMS 9,6 kbps. Teknik circuit swithing tersebut akhirnya akan menyebabkan reduksi atau pengurangan kapasitas sistem secara keseluruhan dan memboroskan lebar pita, sementara itu GPRS yang menggunakan teknik packet switching memungkinkan semua pengguna dalam sebuah sel dapat berbagi sumber-sumber yang sama, dengan kata lain para user dapat menggunakan spektrum radio hanya ketika mengakses data.
Struktur GPRS hampir sama dengan GSM, hanya saja bit rate yang digunakan dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan pada GSM yaitu sebesar 115 kbps. Dengan demikian, Base Station Subsystem (BSS) yang sudah ada akan menyediakan cakupan GPRS lengkap mulai dari ujung jaringan. Namun, dibutuhkan sebuah perangkat jaringan fungsional baru, yaitu Packet Control Unit (PCU) yang berfungsi sebagai pengatur segmentasi paket, akses kanal radio, kesalahan-kesalahan transmisi dan mengontrol daya. Penyebaran jaringan GPRS adalah dimulai dengan pengenalan sebuah subsistem jaringan tumpangan baru yang disebut Network SubSystem (NSS), dimana memiliki dua elemen jaringan baru, yaitu Serving GPRS Support Node (SGSN) dan Gateway GPRS Support Node (GGSN).

Teknologi EDGE (Enhanced Data Rates for Global Evolution) merupakan teknologi lanjutan dari GPRS yang memiliki kecepatan data tiga kali lebih besar dibanding dengan teknologi GPRS yaitu sebesar 384 kbps.
Komunitas GSM membuat transisi ke 3G dalam 3 fase berbeda:
1. Menambah jaringan radio packet sebagai sebuah overlay pada struktur eksisting.
2. Mengganti BS dan BSC dengan sub-network UTRA (Universal Terrestrial Radio Access)
3. Memperkenalkan handset UMTS (Universal Mobile telecommunication System) beserta SIM

Standarisasi Teknologi
ITU (International Telecommunication Union/Badan Telekomunikasi Internasional) telah menetapkan IMT-2000 (International Mobile Telecommunication 2000) sebagai istilah sekaligus standar untuk sistem seluler generasi ketiga. ITU telah mengalokasikan spektrum frekuensi bagi IMT-2000 yaitu di spektrum frekuensi penerimaan (uplink) 1920-1980 MHz yang berpasangan dengan spektrum frekuensi pengiriman (downlink) 2110-2170 MHz. Dan juga menetapkan frekuensi sekitar 2 GHz yang dapat digunakan untuk layanan masa depan, baik terrestrial atau satellite.

IMT 2000 adalah generasi ketiga sistem komunikasi bergerak (mobile communication system) yang dirancang untuk menyediakan layanan global, kemampuan layanan yang beragam dan perbaikan performansi secara signifikan. Teknologi ini akan menggabungkan pager, telepon seluler, dan sistem komunikasi bergerak dengan satelit (mobile satellite system). Dengan kata lain IMT 2000 adalah dasar bagi akses komunikasi global yang terintegrasi.
Walaupun ITU telah mendepkrisikan IMT 2000 sebagai sebuah standar tunggal yang bersifat global atau mendunia, tetapi penentu kebijakan bidang telekomunikasi di beberapa negara, pabrik-pabrik pembuat peralatan dan para operator tidak dapat mencapai kesepakatan secara bulat. Akibatnya, jalur menuju generasi ketiga berjalan lambat, dan setiap orang ingin agar kesesuaian dengan sistem yang sudah ada dapat dijamin oleh sistem yang baru sehingga dapat tetap bekerja. Sehingga IMT 2000 dapat memiliki tiga mode operasi yaitu CDMA, WCDMA dan TDMA
UMTS (Universal Mobile Telecommunications System)
UMTS (Universal Mobile Telecommunications System) merupakan generasi ketiga (3G) sistem bergerak. UMTS didukung oleh banyak operator telekomunikasi dan para produsen. UMTS berusaha membangun kemampuan yang sama dengan sistem-sistem yang telah bekerja saat ini, bahkan berusaha meningkatkan kapasitas, kemampuan data dan memiliki cakupan layanan yang lebih besar. UMTS menawarkan layanan jarak jauh, seperti komunikasi suara dan SMS, dan layanan bearer (pembawa), dengan menyediakan kemampuan transfer informasi antar titik akses. UMTS beroperasi pada band frekuensi 2100 MHz, dimana lebih tinggi dari GSM yang beroperasi pada frekuensi 900 MHz dan sistem TDMA yang beroperasi pada frekuensi 1900 MHz
Akses Radio dan Alokasi Spektrum
Akses radio UMTS dikenal dengan nama Universal Terrestrial Radio Access (UTRA), berbasis WCDMA, yang mencakup baik dengan teknik FDD maupun TDD. Jaringannya disebut UTRAN, huruf N terakhir merupakan singkatan dari Network. Untuk air interface nya, WCDMA memiliki lebar pita nominal 5 MHz. Jarak spasi sinyal pembawanya 5 MHz, namun dimungkinkan juga dengan spasi sinyal pembawa mulai dari 4.4 MHz merentang sampai 5 MHz, dengan jarak variasi potongan yang tetap sebesar 200 KHz.
Variasi ini diperlukan untuk mencegah terjadinya interferensi, terutama pada blok 5 MHz berikutnya jika dialokasikan untuk sinyal pembawa lainnya. Dengan pilihan pada teknologi WCDMA/FDD,  dimana disediakan frekuensi downlink 2110 MHz – 2170 MHz dan frekuensi uplink 1920 MHz – 1980 MHz. Pemisahan diantara keduanya sebesar 190 MHz.

Sunday, August 28, 2011

0 PROPOSAL TUGAS AKHIR

PROPOSAL TUGAS AKHIR



“Prototipe Aplikasi Peminjaman Buku Perpustakaan Mandiri

Berbasis Radio Frequency Identification (RFID)

Dilengkapi Dengan Deteksi Anti Pencurian

Diajukan untuk memenuhi persyaratan Tugas Akhir

Program Pendidikan Diploma III Jurusan Teknik Elektro

Politeknik Negeri Semarang

Oleh :

IK-3B

1. Rudy Yulianta NIM 3.34.08.1.20

2. Yanuar Ihsan Nugroho NIM 3.34.08.1.23

PROGRAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO

POLITEKNIK NEGERI SEMARANG

2011

ABSTRAK

Pada umumnya berbagai permasalahan yang dihadapi oleh perpustakaan konvensional di antaranya adalah terjadinya antrian pada waktu proses peminjaman buku, belum adanya jaminan keamanan buku di perpustakaan, belum optimalnya layanan deteksi peminjaman buku perpustakaan yang masih menggunakan pembacaan barcode pada buku. Sistem deteksi menggunakan barcode memiliki banyak kelemahan yaitu sistem ini perlu adanya petugas yang harus melayani peminjam, dalam hal pencataan kode barcode juga harus meletakkan buku dengan posisi yang segaris lurus dengan alat pendeteksinya, dan barcode yang diletakan pada buku masih ada kemungkinan akan rusak atau usia barcode tidak bertahan lama. Pengembangan perpustakaan yang berbasis RFID bagi tenaga pengelola perpustakaan khususnya pada proses peminjaman dapat mengurangi antrian pada proses peminjaman buku dan dapat mempermudah pengolahan data peminjaman. Aplikasi Peminjaman Buku Perpustakaan Mandiri Berbasis Radio Frequency Identification (RFID) Dilengkapi Dengan Deteksi Anti-Theft ini memfokuskan pada proses peminjaman buku perpustakaan secara otomatis, mulai dari proses pencatatan data buku, anggota, dan menggunakan Anti-Theft Detection sebagai modul keamanan dan disertai kamera pada proses peminjaman buku perpustakaan.

1. JUDUL

Aplikasi Peminjaman Buku Perpustakaan Mandiri Berbasis Radio Frequency Identification (RFID) Dilengkapi Dengan Deteksi Anti Pencurian.

2. PENDAHULUAN

Permasalahan yang dihadapi oleh perpustakaan konvensional di antaranya adalah terjadinya antrian pada waktu proses peminjaman buku, belum adanya jaminan keamanan buku di perpustakaan, belum optimalnya layanan deteksi peminjaman buku perpustakaan yang masih menggunakan pembacaan barcode pada buku. barcode adalah salah satu bentuk teknologi yang diimplementasikan pada berbagai instansi perpustakaan. Barcode dirasa mampu memenuhi kebutuhan akan identifikasi dari koleksi-koleksi barang/buku yang dimiliki oleh perpustakaan. Dengan barcode ini, proses sirkulasi dapat dikerjakan dengan lebih cepat, yakni dengan tambahan hardware barcode reader dan aplikasi software untuk menjalankan rutin-rutin sirkulasi.

Namun, kebutuhan perpustakaan tidaklah cukup hanya dengan identifikasi saja. Barcode dirasa belum cukup untuk memenuhi kebutuhan perpustakaan misalnya untuk menyimpan status apakah koleksi yang ada sedang dipinjam atau tidak. Ini berarti kebutuhan perpustakaan berkembang dari identifikasi menjadi kebutuhan untuk tracking. Perpustakaan memerlukan metode yang tepat untuk mengetahui apakah buku yang terdapat pada rak buku berada pada rak yang tepat atau tidak. Untuk itu, perpustakaan di sejumlah negara maju sudah mulai beralih dari barcode ke Radio-frequency Identification (RFID). Pengembangan perpustakaan yang berbasis RFID bagi tenaga pengelola perpustakaan, dapat membantu dalam proses peminjaman buku di perpustakaan. Pengolahan data dan penyebaran informasi di perpustakaan konvensional sering terjadi hambatan atau masalah, apabila sumber itu masih dalam bentuk kertas yang sifatnya statis atau mengandalkan memori ingatan seseorang sebagai media penyimpanannya, sehingga menimbulkan berbagai permasalahan seperti kehilangan data. Melalui sistem otomasi perpustakaan, proses pengelolaan perpustakaan diharapkan dapat berjalan lebih efektif dan efisien.

3. TUJUAN

Tujuan dari pembuatan Tugas Akhir ini antara lain :

1. Melakukan penelitian terhadap RFID sehingga dapat mengevaluasi kelebihan dan kekurangan Sistem Informasi Perpustakaan.

2. Mengembangkan Sistem Peminjaman Buku Perpustakaan Mandiri berbasis RFID.

3. Mengembangkan Sistem Deteksi Anti Pencurian pada Sistem Perpustakaaan berbasis RFID.

4. PEMBATASAN MASALAH

Dalam pembuatan Tugas Akhir ini, masalah yang akan dibahas terbatas pada :

1. Perananan RFID dalam memberikan kemudahan dalam proses peminjaman buku pada perpustakaan

2. Sistem Peminjaman Buku Perpustakaan Mandiri berbasis RFID.

3. Sistem Deteksi Anti Pencurian untuk mencegah tindak pencurian buku perpustakaan.

5. METODE

Dalam pembuatan Tugas Akhir ini, digunakan metode sebagai berikut :

1. Observasi

Metode untuk mendapatkan data-data dengan melakukan pengamatan secara langsung sehingga dapat mendukung dalam pembuatan Tugas Akhir.

2. Studi Literatur

Metode pengumpulan data dengan mencari literatur/ bahan bacaan yang berhubungan dengan RFID dan informasi tentang perpustakaan. Literatur/ bahan bacaan ini kemudian akan dijadikan sebagai teori dasar dan pendukung dalam pembuatan Tugas Akhir.

3. Metode Bimbingan

Metode bimbingan bertujuan agar perancangan dan pembuatan sistem ini dapat dilakukan secara teratur dan terstruktur.

4. Metode Pengujian

Metode ini dilakukan untuk mendapatkan data pengujian Tugas Akhir yang lebih tepat dan akurat.